Dear, Mary Jane
Kau belum tidur? Kau sedang apa tadi di luar sana?
Aku melihatmu secara tak sengaja. Atau alam semesta sengaja membuatku berdiri di depan jendela kamar, sehingga aku melihatmu, dibawah sana.
Kau tau, lampu jalannya tidak terlalu terang, jadi tak jelas kelihatan siapapun yang berjalan 3 lantai di bawah sana itu. Tapi hatiku, atau mataku, atau otakku, entahlah yang mana, semua mendadak sok tau. Sosok mungil berjaket biru dibawah sana itu kau, Mary Jane.
Aku membeku, sampai beberapa detik kemudian otakku baru berpikir benar. Hei, aku 3 lantai jauhnya darimu, kau tak melihatku. Buat apa tegang membeku. Silly me, MJ.
Apa yang kau bawa itu? Plastik putih di tangan. Kulihat kau datang dari arah minimarket 24 jam di belakang asrama. Asumsiku, lagi- lagi sok tau, mungkin kau lapar menjelang tengah malam?
Ah, aku jadi ingat, apa kau sudah beradaptasi dengan makanan di sini? Sudahkah? Belum kah?
Apa kau rindu masakan rumah?
Kalau aku, aku rindu hari Senin, jadi aku bisa melihatmu tiap jam istirahat tiba.
Salam,
Dari gedung asrama laki- laki
Showing posts with label komitmen. Show all posts
Showing posts with label komitmen. Show all posts
Wednesday, February 11, 2015
Sunday, February 8, 2015
Day 10: Mary Jane, Hari Berhujan
Dear Mary Jane...
atau MJ, seperti yang biasa teman- temanmu panggil.
Kita baru bertemu seminggu yang lalu, di koridor. Aku sedang menghabiskan waktu istirahat yang hanya sebentar itu, meneguk air dari gelas kertas. Pelan- pelan ku biarkan air dingin melewati tenggorokanku. Jendela besar memperlihatkan hujan di luar sana.
Di penghujung musim dingin, di awal musim semi, di hari berhujan. Aku merapatkan sweater ku. Koridor tanpa penghangat.
Mary Jane, kau melewati ku. Hanya menoleh sekilas saja padaku. Akupun begitu. Kurasa, itu kali pertama kita bertemu.
Tinggimu hanya sedadaku, rambut hitam sebahu. Jaket baseball abu- abu, celana kulit hitam.
Kau menghilang masuk ke salah satu pintu di depanku. Aku membuang gelas kertas, mengikuti jejakmu, masuk ke pintu disebelahnya.
Hari berhujan ini, saat aku bertemu Mary Jane, aku tandai dalam memoriku.
Salam dari kelas sebelah
atau MJ, seperti yang biasa teman- temanmu panggil.
Kita baru bertemu seminggu yang lalu, di koridor. Aku sedang menghabiskan waktu istirahat yang hanya sebentar itu, meneguk air dari gelas kertas. Pelan- pelan ku biarkan air dingin melewati tenggorokanku. Jendela besar memperlihatkan hujan di luar sana.
Di penghujung musim dingin, di awal musim semi, di hari berhujan. Aku merapatkan sweater ku. Koridor tanpa penghangat.
Mary Jane, kau melewati ku. Hanya menoleh sekilas saja padaku. Akupun begitu. Kurasa, itu kali pertama kita bertemu.
Tinggimu hanya sedadaku, rambut hitam sebahu. Jaket baseball abu- abu, celana kulit hitam.
Kau menghilang masuk ke salah satu pintu di depanku. Aku membuang gelas kertas, mengikuti jejakmu, masuk ke pintu disebelahnya.
Hari berhujan ini, saat aku bertemu Mary Jane, aku tandai dalam memoriku.
Salam dari kelas sebelah
Saturday, February 7, 2015
Day 9: Salam Salut
Kepada para penulis,
Novel komedi sampai misteri,penulis buku best seller ataupun penulis blog. Kalian semua, aku suka. Tulisan rapi, ngena dan mengajak aku jalan- jalan ke tempat berbeda.
Doakan aku yang tulisannya masih seperti remah- remah biskuit di dasar toples, bisa mewujudkan impian.
Kalian semua, aku suka.
Mampu mengalihkan aku, pikiranku, aku sampai tenggelam kalau sedang baca buku. Salah satu liburan favoritku.Day
Salam salut
Novel komedi sampai misteri,penulis buku best seller ataupun penulis blog. Kalian semua, aku suka. Tulisan rapi, ngena dan mengajak aku jalan- jalan ke tempat berbeda.
Doakan aku yang tulisannya masih seperti remah- remah biskuit di dasar toples, bisa mewujudkan impian.
Kalian semua, aku suka.
Mampu mengalihkan aku, pikiranku, aku sampai tenggelam kalau sedang baca buku. Salah satu liburan favoritku.Day
Salam salut
Friday, February 6, 2015
Day 8: Pemberi
Aku kesulitan, aku minta jalan keluar padaMu. Kau kabulkan, tepat seperti yang ku minta. Aku bilang, rejeki anak soleh.
Duh, aku jadi malu, padahal aku kurang nurut padaMu. Aku benar- benar kurang...
Tiap pikiranku melayang dalam kalut, Kau perlihatkan hal- hal yang menguatkan.
Kadang aku segan, aku minta ini itu selalu. Aku banyak maunya, ya.
Tapi, kataMu, tak ada garampun, mintalah padaMu...
Terima kasih, bukan kata yang cukup mewakili semuanya. Aku tau.
Duh, aku jadi malu, padahal aku kurang nurut padaMu. Aku benar- benar kurang...
Tiap pikiranku melayang dalam kalut, Kau perlihatkan hal- hal yang menguatkan.
Kadang aku segan, aku minta ini itu selalu. Aku banyak maunya, ya.
Tapi, kataMu, tak ada garampun, mintalah padaMu...
Terima kasih, bukan kata yang cukup mewakili semuanya. Aku tau.
Thursday, February 5, 2015
Day 7: My Nunung
We're watching American Idol, nongol satu peserta cowok.
Adek: Kak, itu cowok geek yang ganteng.
Me: Eh iya, cakep.
Adek: Umurnya 16 tapi....
Me: omaigat! Aku merasa tante- tante πππ
Itu cuma salah satu, bukan, secuil dari banyaknya percakapan kita tiap hari. Biarpun adek sering ngeselin, tapi adek juga menghibur, sekaligus.
Adek itu kaya Nunung Srimulat, lucu kebangetan. Gaya ngomong yang kaya anak salah makan obat, cadel sok imut ga jelas. Segala jenis impersonasi yang adek mau aja lakuin kalo diminta, benar- benar obat jiwa. Nganeh, tapi lucu.
Adek emang suka nyebelin, ngeselin, ngga bisa dibilangin. Tapi, benar- benar bersyukur, bisa cerita dan akur. Kaya orang- orang yang liat kita sering bilang, "kakak adiknya akur ya, kaya temenan".
Buat orang yang ga suka sama dunia sosial, mood-an soal mingling sama orang, adek itu jadi tempat cerita, sampe kakaknya ini tambah malas nyari teman curhat lain. Kalau ada yang dekat, ngapain capek- capek percaya sama orang lain? Efisien.
Jadi, adek, jatah preman gaji pertama kakak udah adek dapat kan? Walaupun tetap adek neror minta beli lip tint.
Adek yang ceria, kurang- kurangin bandelnya ya
Dari:
kakakmu satu- satunya
Adek: Kak, itu cowok geek yang ganteng.
Me: Eh iya, cakep.
Adek: Umurnya 16 tapi....
Me: omaigat! Aku merasa tante- tante πππ
Itu cuma salah satu, bukan, secuil dari banyaknya percakapan kita tiap hari. Biarpun adek sering ngeselin, tapi adek juga menghibur, sekaligus.
Adek itu kaya Nunung Srimulat, lucu kebangetan. Gaya ngomong yang kaya anak salah makan obat, cadel sok imut ga jelas. Segala jenis impersonasi yang adek mau aja lakuin kalo diminta, benar- benar obat jiwa. Nganeh, tapi lucu.
Adek emang suka nyebelin, ngeselin, ngga bisa dibilangin. Tapi, benar- benar bersyukur, bisa cerita dan akur. Kaya orang- orang yang liat kita sering bilang, "kakak adiknya akur ya, kaya temenan".
Buat orang yang ga suka sama dunia sosial, mood-an soal mingling sama orang, adek itu jadi tempat cerita, sampe kakaknya ini tambah malas nyari teman curhat lain. Kalau ada yang dekat, ngapain capek- capek percaya sama orang lain? Efisien.
Jadi, adek, jatah preman gaji pertama kakak udah adek dapat kan? Walaupun tetap adek neror minta beli lip tint.
Adek yang ceria, kurang- kurangin bandelnya ya
Dari:
kakakmu satu- satunya
Tuesday, February 3, 2015
Day 5: Mari, Singgah!
Buat orang- orang yang pernah singgah di hidupku.
Hei, kalian,
Diantara kita, ada yang masih saling jumpa dan berkabar, ada yang belakangan ngga pernah jumpa lagi, ada yang tahunan, bahkan ada yang ngga pernah bicara sama sekali. Hidup kita cuma bersenggolan garisnya.
Gimana pun, kalian semua punya peran masing- masing di jalan hidupku.
Ada yang hadir sebagai teman, ada yang hadir sebagai pelajaran.
Ada yang jadi hiburan, ada yang cuma jadi figuran. Peramai suasana, yang bahkan aku tau kalian ada,tapi ngga pernah berinteraksi.
Kalian semua, terima kasih sudah hadir ya. Kapan- kapan, mari singgah lagi.
Dari,
Ireane
Hei, kalian,
Diantara kita, ada yang masih saling jumpa dan berkabar, ada yang belakangan ngga pernah jumpa lagi, ada yang tahunan, bahkan ada yang ngga pernah bicara sama sekali. Hidup kita cuma bersenggolan garisnya.
Gimana pun, kalian semua punya peran masing- masing di jalan hidupku.
Ada yang hadir sebagai teman, ada yang hadir sebagai pelajaran.
Ada yang jadi hiburan, ada yang cuma jadi figuran. Peramai suasana, yang bahkan aku tau kalian ada,tapi ngga pernah berinteraksi.
Kalian semua, terima kasih sudah hadir ya. Kapan- kapan, mari singgah lagi.
Dari,
Ireane
Monday, February 2, 2015
Day 4: Sayangku Sebelum Dia
Hei, kamu, sayangku yang dulu, apakabar?
Aku lihat kamu di layar lebar, mencium sembarang gadis yang tak berapa kamu kenal.
Kamu, sayangku sebelum dia,
Kelihatannya memang lah kita ini tak diciptakan untuk berjumpa. Mungkin aku yang terlampau banyak maunya. Aku tak sudi beramai- ramai dengan yang lain untuk berjumpa denganmu. Aku ingin untuk diriku saja.
Kamu, sayangku sebelum aku memutuskan jatuh cinta padanya,
Pergi lah kamu mencari cinta, jangan menunggu lama. Aku tau, wajah mu tetap akan rupawan saat umurmu menginjak 40an.
Sekarang aku sudah rela, pergilah cari seorang gadis, cintai dia.
Cintamu nanti mungkin naik turun, sedih dan bahagia, itu normal.
Kamu, sayangku yang kedua. Aku sudah punya dia, yang pertama.
Jauh- jauh aku ke rumahmu, tetap saja kamu pelit waktu. Bersyukurlah, aku suka tanah airmu, kalau tidak ku cari kamu lalu ku jitak.
Sayangku yang kedua, aku sudah punya dia. Menggeser cinta ingusan salah tempatku padamu dulu.
Sayangku sebelum dia, kamu tak tau kalau aku ada.
Aku lihat kamu di layar lebar, mencium sembarang gadis yang tak berapa kamu kenal.
Kamu, sayangku sebelum dia,
Kelihatannya memang lah kita ini tak diciptakan untuk berjumpa. Mungkin aku yang terlampau banyak maunya. Aku tak sudi beramai- ramai dengan yang lain untuk berjumpa denganmu. Aku ingin untuk diriku saja.
Kamu, sayangku sebelum aku memutuskan jatuh cinta padanya,
Pergi lah kamu mencari cinta, jangan menunggu lama. Aku tau, wajah mu tetap akan rupawan saat umurmu menginjak 40an.
Sekarang aku sudah rela, pergilah cari seorang gadis, cintai dia.
Cintamu nanti mungkin naik turun, sedih dan bahagia, itu normal.
Kamu, sayangku yang kedua. Aku sudah punya dia, yang pertama.
Jauh- jauh aku ke rumahmu, tetap saja kamu pelit waktu. Bersyukurlah, aku suka tanah airmu, kalau tidak ku cari kamu lalu ku jitak.
Sayangku yang kedua, aku sudah punya dia. Menggeser cinta ingusan salah tempatku padamu dulu.
Sayangku sebelum dia, kamu tak tau kalau aku ada.
Sunday, February 1, 2015
Day 3: Kutulis Untuk Melegakan Hati
Sayang, ini kutulis pagi-pagi. Setelah pembicaraan kita sebelum tidur tadi malam. Isinya berputar- putar di kepalaku. Membuat aku tak bisa memejam lagi setelah subuh. Padahal, ini hari Minggu.
Pembicaraan, yang kau bilang kita sedang bercerita. Yang kubilang, kita sedang melepas argumen. Perdebatan tanpa urat, emosi. Hanya kata- kata dalam nada tenang. Memang kau benar, seolah sedang bercerita.
Jadi, sayang, kutulis ini pagi- pagi, untuk melegakan hatiku.
Maafkan, kalau belakangan aku sering menuntutmu. Kau membantu aku menyadari sikapku yang itu.
Maafkan, kalau kau merasa dikejar- kejar olehku, padahal aku tak kuat berlari.
Maafkan, kalau kau merasa aku menerormu. Padahal, aku bukan teroris. Niatku tak begitu.
Yang aku lakukan, kadang- kadang diluar kendaliku. Ini bukan pembelaan. Aku jujur.
Hati dan kepalaku belakangan fokusnya pada hal itu. Diluar kendali, bibirku jadi menyuarakannya. Tersirat maupun tersurat.
Jadi, kutulis ini untuk melegakan hati. Mungkin cerita kita sebelum tidur tadi malam, tak ku lengkapi. Tapi, maaf. Aku benar- benar salah. Jadi, maaf.
Jangan sampai kau lari. Jangan merasa ku kejar, jangan begitu.
Biar aku yang menunggu, biar aku yang kunci isi kepalaku, biar aku yang tahan ingin- inginku.
Kau berjalanlah sepelan yang kau mau. Aku akan memelankan langkahku.
Sayang, entah ini akan kau sebut surat.
Tapi, akan ku mulai seperti surat.
Apakabar mu di hari Minggu?
Dari: aku
Pembicaraan, yang kau bilang kita sedang bercerita. Yang kubilang, kita sedang melepas argumen. Perdebatan tanpa urat, emosi. Hanya kata- kata dalam nada tenang. Memang kau benar, seolah sedang bercerita.
Jadi, sayang, kutulis ini pagi- pagi, untuk melegakan hatiku.
Maafkan, kalau belakangan aku sering menuntutmu. Kau membantu aku menyadari sikapku yang itu.
Maafkan, kalau kau merasa dikejar- kejar olehku, padahal aku tak kuat berlari.
Maafkan, kalau kau merasa aku menerormu. Padahal, aku bukan teroris. Niatku tak begitu.
Yang aku lakukan, kadang- kadang diluar kendaliku. Ini bukan pembelaan. Aku jujur.
Hati dan kepalaku belakangan fokusnya pada hal itu. Diluar kendali, bibirku jadi menyuarakannya. Tersirat maupun tersurat.
Jadi, kutulis ini untuk melegakan hati. Mungkin cerita kita sebelum tidur tadi malam, tak ku lengkapi. Tapi, maaf. Aku benar- benar salah. Jadi, maaf.
Jangan sampai kau lari. Jangan merasa ku kejar, jangan begitu.
Biar aku yang menunggu, biar aku yang kunci isi kepalaku, biar aku yang tahan ingin- inginku.
Kau berjalanlah sepelan yang kau mau. Aku akan memelankan langkahku.
Sayang, entah ini akan kau sebut surat.
Tapi, akan ku mulai seperti surat.
Apakabar mu di hari Minggu?
Dari: aku
Saturday, January 31, 2015
Day 2: Kepada Kamu
Kepada kamu, teman berbagi cerita
Kamu yang buat saya berpikir, temen tapi kalau diajak pacaran,boleh juga
Kamu tempat saya bebas bersuara
Kamu tempat saya menitip asa
Kamu yang amat sangat ingin saya masukkan jadi bagian keluarga
Kamu teman saya menangis dan tertawa
Kamu yang saya sebut dalam doa
Kamu yang terlalu sering saya ingat,
semoga Tuhan selalu menjagamu
Kamu yang marahpun tetap saya cari
Karena kamu, saya jadi ingin mengintip masa depan
Karena kamu, ketidak pedulian terhadap urusan orang saya tanggalkan,
Saya peduli pada urusanmu
Kamu, yang wanginya saya bawa tidur malam- malam
Kamu, yang tiap bertemu, ingin saya bawa pulang
Kamu yang tak sungkan jadi pria dan anak laki- laki di depan saya
Kamu, yang saya nantikan kata-katanya, meminta saya jadi teman hidupmu
Iya, yang tadi kode garis keras, Sayang :))
Kamu yang buat saya berpikir, temen tapi kalau diajak pacaran,boleh juga
Kamu tempat saya bebas bersuara
Kamu tempat saya menitip asa
Kamu yang amat sangat ingin saya masukkan jadi bagian keluarga
Kamu teman saya menangis dan tertawa
Kamu yang saya sebut dalam doa
Kamu yang terlalu sering saya ingat,
semoga Tuhan selalu menjagamu
Kamu yang marahpun tetap saya cari
Karena kamu, saya jadi ingin mengintip masa depan
Karena kamu, ketidak pedulian terhadap urusan orang saya tanggalkan,
Saya peduli pada urusanmu
Kamu, yang wanginya saya bawa tidur malam- malam
Kamu, yang tiap bertemu, ingin saya bawa pulang
Kamu yang tak sungkan jadi pria dan anak laki- laki di depan saya
Kamu, yang saya nantikan kata-katanya, meminta saya jadi teman hidupmu
Iya, yang tadi kode garis keras, Sayang :))
Friday, January 30, 2015
Day1: Mama
Dear Mom,
Saya dibilang anak Mami nih.Pergi ngantor sama Mama, makan siangnya sama Mama,pulang kerja juga sama Mama.
Lantas, langsung dapat sebutan anak Mami. Malu? Engga. Marah? Engga. Saya cuma nyengir aja.
Ya memang saya anak Mama.
Tiap hari saya berdoa, supaya saya bisa di dekat Mama terus. Jadi bisa mastiin kalau Mama sehat, sudah makan, ga kecapekan. Memastikan, hari tua orang tua saya, bahagia, ga kesepian.
Ah, Mama, sehat terus ya, banyak istirahat, karena kadang udah capek pun, Mama ga bisa diam. Akhirnya asma Mama kumat.
Dulu, saya pernah ingin jauh- jauh dari Mama. Jauh dari rumah. Sampai saya sadar, Mama saya cuma satu, baik- baiklah selagi masih ada. Sekarang, tiap Mama kurang sehat, saya gelisah, karena Mama bertambah tua.
Dengan egois saya berdoa, agar Tuhan selalu menjaga, memberi kesehatan dan umur panjang buat Mama. Saya butuh Mama.
Mama yang baik, yang cepat memaafkan ketidaksabaran saya, i love you Mom.
Saya dibilang anak Mami nih.Pergi ngantor sama Mama, makan siangnya sama Mama,pulang kerja juga sama Mama.
Lantas, langsung dapat sebutan anak Mami. Malu? Engga. Marah? Engga. Saya cuma nyengir aja.
Ya memang saya anak Mama.
Tiap hari saya berdoa, supaya saya bisa di dekat Mama terus. Jadi bisa mastiin kalau Mama sehat, sudah makan, ga kecapekan. Memastikan, hari tua orang tua saya, bahagia, ga kesepian.
Ah, Mama, sehat terus ya, banyak istirahat, karena kadang udah capek pun, Mama ga bisa diam. Akhirnya asma Mama kumat.
Dulu, saya pernah ingin jauh- jauh dari Mama. Jauh dari rumah. Sampai saya sadar, Mama saya cuma satu, baik- baiklah selagi masih ada. Sekarang, tiap Mama kurang sehat, saya gelisah, karena Mama bertambah tua.
Dengan egois saya berdoa, agar Tuhan selalu menjaga, memberi kesehatan dan umur panjang buat Mama. Saya butuh Mama.
Mama yang baik, yang cepat memaafkan ketidaksabaran saya, i love you Mom.
Subscribe to:
Posts (Atom)