Showing posts with label nyoba fiksi. Show all posts
Showing posts with label nyoba fiksi. Show all posts

Monday, August 9, 2021

Lanjuuut

 Dua

 

Alex membuka mata saat burung- burung di luar apartemennya riuh berbunyi. Alex memaksa kakinya berayun dari atas tempat tidur. Dengan langkah berat dan mata setengah terbuka ia menuju jendela. Alex mendorong jendela kaca hingga terbuka sedikit. Ia membutuhkan hembusan udara pagi untuk membangunkannya secara total, tak peduli sedingin apapun cuaca diluar sana.

Alex beranjak ke kamar mandi, ia ada kelas pagi hari ini. Bayangan di cermin menatap balik pada Alex. Mata cekung, dengan lingkaran hitam di sekelilingnya yang semakin gelap saja.

Belakangan ini, Alex hanya tidur kira- kira satu jam saja sehari. Ia bisa jatuh sakit kalau begini. 

Dan ibu akan terbang kesana, lalu menyeretmu pulang. 

Alex mendengus pelan. Ibunya tahu benar kenapa ia jauh- jauh pergi kemari meninggalkan kota New York. Ibunya tahu benar, di sana semua yang terindah dan terburuk terjadi pada Alex. Yang terburuk… Alex menutup matanya saat kenangan itu berkelebat lagi. 

Dan kini, hari- hari tanpa tidurnya kembali lagi. Alex menghela napas. Ia membiarkan wajahnya diguyur air pancuran.

Alex memutuskan untuk berjalan kaki menuju gedung kelasnya. Lagipula, apartemennya masih berada dalam lingkungan universitas. Dan Alex juga berencana mampir ke coffee shop di dekat minimart sebelah asrama mahasiswa.

Asrama mahasiswa… Gadis itu…

Alex mengernyitkan dahinya sambil memejamkan mata. Ingatan soal gadis itu seolah membuatnya sakit. Ah, Alex benar- benar butuh segelas kopi. Ia mempercepat langkahnya.

Alex melangkah pelan keluar dari coffee shop, ia menyesap kopinya. Kehangatan yang nyaman menjalari tubuhnya. Tanpa sadar, Alex menoleh ke arah kirinya. Lalu menatap lama jendela- jendela gedung putih berlantai lima itu. Di balik salah satu jendela itu, gadis itu tinggal. Mungkin ia sedang tidur nyenyak. Ironis sekali. Karena sejak melihatnya, Alex jauh sesuatu dari yang namanya tidur nyenyak.

Alex menyesap kopinya sekali lagi. Ia harus pergi, walaupun ia dengan senang hati berdiri seharian di sini. Dengan harapan ia bisa melihat gadis itu lagi. Sekedar untuk memastikan. Kemungkinan matanya hanya salah lihat. Karena gadis yang sudah pergi dari dunia ini, tak mungkin kembali lagi.

Sekedar memastikan… 

***

 

Aria bersin- bersin selama lima belas menit terakhir. Ia mengabaikan hidungnya yang gatal lalu membalik badannya. Aria menarik selimutnya sampai menutupi kepala. Bersin- bersin itu mengganggu tidurnya. Mata Aria masih berat sekali. Ia mencoba tidur lagi.

Aria tertidur entah berapa lama. Ia terbangun kali ini karena perutnya yang protes minta diisi. Aria bangkit dan duduk diantara gulungan selimutnya. Sejenak ia merasa aneh dengan keadaan sekelilingnya. Semua perabotan di kamar itu berjumlah dua. Aria mengernyitkan dahinya. Dimana aku, pikirnya.

Aria duduk diam beberapa saat hingga otaknya benar- benar mulai bekerja. Ah, aku di asrama. Di Jeju. Jauh, sangat jauh dari rumah.

Tempat tidur Aom rapi. Tidak terdengar suara air pancuran dari kamar mandi. Aria menuruni tempat tidur, lalu mengecek jam di ponselnya. Jam sepuluh. Ia lagi- lagi melewatkan jadwal sarapan di kantin asrama. Aria bergerak ke kamar mandi.

Aria sedang duduk di depan mejanya, menonton sebuah acara televisi Korea di laptopnya saat pintu kamar di buka. Aom masuk, ia baru saja pulang jalan- jalan pagi, hal yang selalu dilakukannya sejak hari pertama Aria menjadi teman sekamarnya. Mata Aom berhenti di tangan Aria yang sedang memegang bungkusan besar snack jagung bakar. Aromanya mengisi seluruh ruangan.

“Jangan katakan padaku kalau itu adalah sarapanmu.”

Aria tertawa saja. Lalu menggangguk pelan penuh rasa bersalah. Aom menggeleng pelan.

“Aku serius, Aria-ssi. Sebaiknya kau pergi ke pusat kebugaran di atas dan coba menimbang berat badanmu. Kurasa kau sangat kurus sekarang.” Bahasa Korea Aom-ssi sekarang seimbang dengan bahasa Inggrisnya, ia selalu mencampur keduanya saat berbicara.

 

Saat kelas bahasa Korea selesai pada pukul setengah lima sore, Aria sudah kelaparan setengah mati. Perutnya bergemuruh pelan selama setengah jam terakhir, tanpa jeda. Ia sedikit menyesal tidak makan sebelum pergi kuliah tadi siang. 

Momoko, mahasiswi asal Jepang yang pendiam dan berwajah sangat anggun, mengajak mereka makan malam di luar hari ini. Kata Momoko, di dekat gerbang utama universitas, ada beberapa restoran kecil yang enak. Aria bertekat akan mencoba banyak hal baru, apapun itu, selama tinggal di tempat ini. Jadi, ia sangat bersemangat menyanggupi ajakan Momoko.

Cuaca belakangan sudah mulai hangat. Kata Aom-ssi, sebentar lagi bunga- bunga akan bermekaran. Ia harus melihat sakura, yang asli. 

“Momoko-ssi, aku iri padamu. Kau seumur hidup bisa melihat bunga sakura bermekaran tiap musim semi.”

Aom-ssi berkata sambil sibuk mengambil foto dengan ponselnya. Momoko hanya tertawa pelan. Oh-oh, bahkan ia tertawa dengan anggun.

“Aku melihat brosurnya kemarin, minggu depan akan ada festival bunga sakura. Kalian mau pergi bersama melihatnya?”

“Tentu saja!” Aria menyahut bersemangat, berbarengan dengan perutnya yang bergemuruh lagi. Kali ini agak sedikit lebih keras. Aria berharap Aom dan Momoko tak mendengarnya. Dan kelihatannya memang demikian karena mereka berdua sibuk membicarakan soal festival sakura.

Aria menarik sedikit celana jeans-nya. Celana itu sekarang sudah longgar. Ya ampun, Aom-ssi benar. Sepertinya ia sudah sangat kurus sekarang. Ibunya tak akan suka kalau tahu ia tidak makan dengan teratur disini. Mungkin ibu akan langsung menelepon dan memberinya perintah untuk segera pulang.

Oh, ya. Ia belum menelepon kerumah lagi dalam minggu ini. Aria merogoh saku celananya lalu mengeluarkan ponsel barunya. Ia baru saja membelinya kemarin sore. Awalnya ia hanya harus mengganti nomor ponselnya saja dengan nomor baru yang bisa digunakan di sini. Namun, ia berakhir dengan sebuah ponsel baru saat keluar dari toko.

Yoonha ssi yang menemaninya pergi sampai tertawa melihat Aria mudah sekali digoda oleh sales toko ponsel tersebut. Kini ia menimbang- nimbang ponsel tipis berwarna gelap ditangannya. Aria menyentuh layarnya lalu menekan nomor rumahnya. 

“Aria-ssi, kau ketinggalan!” Aom-ssi melambai. Ia dan Momoko sudah jauh di depan.

“Duluan saja. Aku akan menelepon ibuku sebentar.” Aria melambaikan tangannya. Teleponnya dijawab setelah dering kedua. Aria menanyakan kabar anggota keluarganya satu persatu. Kedua adiknya dengan semangat bergantian memintanya menggambarkan keadaan Korea. 

Aria tertawa- tawa mendengar kedua adiknya. Ia menyusuri jalan yang menurun. Aom dan Momoko berjalan pelan beberapa meter di depannya.

Aria mengamati pohon- pohon besar yang berjajar tumbuh di sepanjang jalan. Pucuk- pucuk hijau kecil sudah mewarnai dahan- dahan besar yang seingatnya saat ia tiba di sini masih gundul.  Aria sedang menceritakan festival sakura saat seseorang tak sengaja menyenggol bahunya. Ponsel di genggamannya melompat dari tangan Aira. Dalam gerakan lambat Aira melihat ponsel barunya melayang di udara lalu gaya gravitasi menghempaskan ponselnya ke trotoar. Bunyi ponsel yang menghantam trotoar serasa menyayat hatinya. Ia menjerit tertahan.

Oh.. tidak. Tidak.

Aria tak bergerak, masih menatap ponselnya. 

“Ugh. Maafkan aku,” sebuah suara terdengar dari belakang Aria. Lalu jari- jari yang panjang menggapai dan mengangkat ponsel Aria dari trotoar. Mata Aria mengikuti arah jari-jari itu.

“Ah, layarnya retak…” Seorang laki-laki berdiri di depan Aria dengan ponsel Aria digenggamannya. Aria masih mematung di tempat. Matanya nyaris tak berkedip. Pandangannya berpindah dari ponsel lalu ke wajah laki- laki yang memegangnya. Laki- laki itu masih mengamati ponsel Aria. Memeriksa kerusakan apalagi yang dialami ponsel malang Aria.

Oh! Ini laki- laki kemarin.

“Mm.. Ponselmu tak bisa menyala.” Kali ini ia menoleh pada Aria. Entah apa yang salah pada wajahnya, tapi mata laki- laki itu melebar saat melihatnya. Sedetik Aria ingin menganggap tatapan laki- laki itu karena ia mengagumi wajah Aria. Tapi Aria melihat jelas wajah laki- laki itu memucat. 

Aria memiringkan kepalanya. Ia sekarang jadi sedikit sebal.

“Kau seperti habis melihat hantu,” serunya melihat cara laki- laki ini menatapnya. Ia mengambil ponselnya dari tangan laki- laki itu. Aria meringis saat mencoba menyalakan ponselnya. Layarnya retak.

Oh! Sial! 

Laki- laki di depannya kembali berbicara, kelihatannya sudah pulih dari rasa kaget. Atau ketakutan. Entahlah. Aku kan bukan hantu. Yang benar saja.

“Berikan ponselmu padaku. Akan aku perbaiki.” Ia mengulurkan tangan. “Aku minta maaf,” tambahnya sambil menundukkan kepala sedikit.

Aria menghela napas. Ia berdiri diam dengan tangan dilipat di dadanya. Aria menimbang- nimbang. Tentu saja ponselnya ini harus diperbaiki. Lihat saja keadaannya, seperti manusia habis kecelakaan lalu lintas. Dan seingat Aria, mengganti layar ponsel yang retak itu tidak murah. 

Jadi memang sebaiknya Aria terima saja tawaran laki- laki ini.  “Baiklah. Tapi, pinjamkan aku sebentar ponselmu. Aku harus memberitahu ibuku kalau ponselku rusak.” Ia menyodorkan ponsel rusaknya.

Tanpa banyak tanya laki- laki itu mengeluarkan ponselnya dari saku mantel dan memberikannya pada Aria. “Kalau kau mau, kau bisa pakai dulu ponselku selama ponselmu diperbaiki.”

Aria mengibas- ngibaskan tangannya. “Tak perlu. Tak apa- apa.” Aria mengetik dengan cepat sebuah pesan, lalu mengetik nomor penerimanya.

“Ini. Terima kasih.”

“Tuliskan alamat email-mu. Akan ku beritahu saat ponselmu selesai.”

Aria terdiam sejenak. Ia mengamati laki- laki di depannya tanpa sadar. Melihat Aria diam, laki- laki menambahkan,” kau punya komputer untuk mengecek email-mu kan?”.

“Tentu saja.” Apa maksudnya sih. Ia jadi sebal lagi. Dengan cepat Aria mengetik alamat emailnya di ponsel laki- laki itu.

“Hmm.. aku Alex. Ku rasa kau harus tahu namaku karena aku akan membawa ponselmu.”

Aria menyambut saja tangan yang diulurkan ke hadapannya. “Aria,” jawabnya singkat. Ia segera menarik tangannya, lalu mengembalikan ponsel yang di pegangnya.

Aom dan Momoko tampak berhenti tak jauh dari gerbang universitas. Mereka menunggu Aria. “Baiklah. Aku harus segera pergi. Sampai nanti.” Aria berbalik dan bersiap melangkah.

“Kau yakin tak mau memakai ponselku untuk sementara?” Suara dalam laki- laki itu menghentikan Aria. Aria menoleh sedikit,”tak perlu. Tak apa- apa.” Mungkin laki- laki itu merasa tak enak hati, pikir Aria. Jadi Aria tersenyum untuk menyakinkan kalau ia tak perlu merasa tak enak hati.

Aria setengah berlari menuju tempat Aom dan Momoko masih berdiri. Aria teringat cara laki- laki tadi menatapnya. Aria tahu orang- orang sering mengira ia sakit karena kulitnya yang putih pucat. Tapi, kakinya kan tidak melayang- laying di atas tanah. Jadi, laki- laki tadi tak perlu sekaget itu melihatnya.

“Aria-ssi, kau lama sekali. Ada apa?”, tanya Aom segera saat Aria tiba di depannya. Aria menunduk memegang lututnya. Ia mengatur napas yang terengah- engah.

“Ayo, aku sudah lapar sekali. Aku tak punya tenaga untuk bicara sekarang,” ucap Aria saat napasnya sudah agak teratur. Perutnya bergemuruh lagi. Ia akan menghabiskan tteokpokki satu porsi besar untuk dirinya sendiri.

 

***

Alex Kang berbelok dengan cepat di ujung jalan. Ia memijit keningnya, matanya lelah. Kurang tidur selama berhari- hari dan duduk menatap layar komputer nyaris seharian bukanlah kombinasi yang cukup bagus. Saat pekerjaannya selesai, ia baru sadar lampu- lampu dalam ruangannya sudah menyala. Matahari sudah tenggelam dan langit sudah gelap di luar.

Alex memutuskan akan membeli kimbab saja di mini mart, ia lapar. Lelah. Alex melemaskan bahunya yang terasa kaku. Alex menghirup udara malam banyak- banyak. Alex sudah memutuskan,  ia harus tidur malam ini. Alex harus menghentikan mimpi- mimpi yang mengganggu tidurnya. Ia yakin mimpi- mimpi itu muncul karena ia terus memikirkan gadis yang dilihatnya kemarin. Sungguh kebetulan yang mengganggu. Bisakah manusia semirip itu? Bukannya ada teori yang bilang setiap manusia punya tujuh kembaran? Pikiran- pikiran itu berputar dalam kepala Alex. Kontras dengan suasana jalan yang sunyi, isi kepala Alex sungguh riuh.

Tuesday, July 14, 2015

Time

"Yo, lama nggak liat kamu. Kamu kayanya jadi jarang ikutan kalau diajak jalan deh sekarang."

Aku mengatur napasku pelan, tetap dengan senyum bersahabat. Aku mencoba mengontrol diriku, agar protesku tak kentara kedengaran dan rindu itu tak melesak kepermukaan.

Rio bergerak sedikit di kursinya, matanya terus menatap ke arah dalam cafe. Aku tau dengan pasti apa yang diawasi mata itu. Dan aku tak suka. Ada sakit yang tiba- tiba berdenyut lagi.

"Maklumlah, aku masih pegawai baru. Mesti rajin- rajin ada di kantor," jelas Rio. Kini matanya menatapku. Masih mata yang sama, hanya kini berada dibalik frame kacamata berwarna hitam. Mata yang sama, sayu, dengan lingkar hitam yang sekarang lebih samar- samar terlihatnya.

Dia mengurusmu dengan baik. Kenyataan yang sangat aku benci untuk aku akui.

Tidak! Tidak! Aku tak akan mengakuinya. Kau mengurus dirimu dengan lebih baik, Rio. Bukan karena dia.

"Yakin?," tanyaku tajam.

"Maksudnya?"

Sekilas, tak terlihat jelas memang karena segera menghilang, tapi aku melihatnya, rasa tak senang di wajah Rio karena ucapanku. Aku tau, aku sudah menantang emosinya. Dan hal terakhir yang aku inginkan adalah membuat marah laki- laki ini, yang aku rindu setengah mati.

Rio masih diam. Matanya melirik lagi ke dalam cafe.

Mesti ya kamu sebegitunya menunggu dia? Dia cuma ke musala doang, Yo!

Kusambar gelas minumanku.

"Kita kan rindu sama kamu, Yo. Kamu nggak pernah nongol kalau diajak ngumpul. Padahal kamu dulu teman yang asik, seru. Diajak ngumpul kamu pasti datang," protesku.

Aku tak akan menahan diri lagi. Biar Rio tau, biar dia lihat. Aku rindu padanya, kehadirannya. Aku ada di sini, dari dulu sampai sekarang. Belum pergi ke mana- mana. Aku masih menunggu. Dia tau kan, ada sesuatu diantara kami berdua?

Setidaknya dulu.

Aku memainkan sedotan di gelasku. Mengaduk- aduk jus di dalamnya sampai berputar tak karuan seperti isi kepalaku, juga perasaanku.

Rio melirik lagi ke arah dalam cafe. Ia menghela napas pelan. Ku rasa dia sedang mengatur emosinya. Jelas terlihat kata- kataku tadi mengusiknya. Aku menunggu. Toh, selama ini aku juga menunggu, dan aku sanggup. Jadi, menunggu penjelasannya saat ini tak akan terasa terlalu lama. Aku orang yang sabar.

Tapi Rio diam saja di tempat duduknya. Ia bahkan kini tak melihatku.

"Yo...," panggilku.

Ia menoleh, tapi matanya kini menatapku dengan masam. Ia marah!

"Dulu, ya?" Rio bersuara dengan senyum dipaksakan.

"Iya, dulu. Sebelum kamu sama pacarmu yang sekarang!"

There. Sudah kukatakan.

Entah kenapa, tapi aku tiba- tiba jadi gugup luar biasa. 

Rio menegakkan duduknya. Ia tak lagi menyimpan rasa marahnya. Matanya menatapku tajam. Kurasa menyebut- nyebut sesuatu soal pacarnya cukup bisa memicu emosi Rio. Aku cukup tegar untuk mendengar apapun yang akan dikatakannya. Apapun dari bibir itu. Aku siap terluka. Aku memang sudah patah hati, apalagi yang tersisa?

Benarkah? Bukankah aku masih berharap?

Rio membuka mulutnya. "Oya? Well, aku bahagia dengan dia. Sangat bahagia. Sayang sekali kamu nggak lihat itu, Ra. Aku ngga masalah ngga dianggap seru atau asik lagi. Dia pilihan terbaik yang pernah aku buat. Lagipula, manusia meluangkan waktunya untuk orang- orang yang mereka cintai kan?."

Mata Rio menangkap sesuatu di kejauhan dan kemarahannya padam jadi asap.

Rasanya sesuatu menohok tenggorokanku. Bersusah payah aku menelannya.

"Jadi, aku tak berhak kebagian sedikit dari waktu kamu?"

Rio bangkit dari kursinya. Ia tersenyum ke arah matanya memandang. Mata yang tadi terbakar emosi, kini menatap penuh sayang. Ia berpaling ke arahku. Senyum masih menghias bibirnya.

"Ra, kamu berhak meminta waktuku. Tapi aku juga berhak memutuskan, akan memberikannya pada siapa."

Aku merasa ia berbicara bukan hanya tentang waktu. Tapi tentang semuanya. Tentang hatinya yang juga aku pinta. Aku bisa mencintainya, tapi dia yang memutuskan akan memberi cintanya pada siapa.Itu jawabannya untukku.

Kulihat Rio mengulurkan tangannya. Lalu menggenggam erat tangan yang menyambutnya. Mereka akan berlalu.

"Duluan ya," pamitnya. Perempuan digenggamannya melambaikan tangan. Teman- teman riuh menggoda mereka.

Aku menunduk di atas gelasku. Ternyata hatiku masih tersisa kepingannya, dan kini patah lagi. Sebulir air mata menetes ke dalam gelas. Ku rasa jus melonku akan sedikit keasinan.



Wednesday, April 22, 2015

Donita dan lamaran

"Don!"
"Yes?"
"Tadi ada yang nanyain kamu udah ada yang punya belum."
"Terus?"
"Aku bilang aja, kalau serius, langsung datang kerumah kamu, ngelamar." Dina lalu ketawa cekikikan.
Aku cuma kasih satu cengiran aja sebagai tanggapan.
"Emang kamu belum pengen nikah, Don?"
"Ah, nanti ajalah. Mau jalan- jalan dulu."


"Don. Tadi temen mama dateng loh."
"Yang mana?" Tak terlalu fokus karena menanti lampu lalu lintas berubah jadi hijau. Angka pada papan LED nya terus berkurang.
 15
 14

"Yang dari ruangan sebelah. Katanya, kamu sudah ada yang lamar belum."

11
10

"Mama bilang aja, kalau serius, lamar langsung kerumah."

Here we go again.
Topik paling malesin sejak ulang tahunku berlalu.

Aku nyengir aja. Jurus andalan saat malas menanggapi sesuatu.

2
1

Coba datang padaku dengan cerita soal ingin melamar 5 tahun yang lalu. Waktu hidupku sedang datar sedatar jalanan aspal di siang bolong, nyaris ada fatamorgana. Aku pasti akan nyambut dengan riang gembira.
Sekarang? Aku sedang ingin yang datar aja. Drama rasanya sudah kelewat banyak sampai bisa jadi  naskah sinetron Indonesia 7 season.

***
 "Gas, kalau belum siap, kamu bilang. Ngomong. Jadi aku ga berharap terus."
Bagas diam. Lalu dia tersenyum enteng.

Ah, percakapan soal lamar melamar bikin muak juga lama-lama.

"Ini terakhir aku ngomong gini ya, Gas."
"Iya, aku tau maunya kamu."

Aku menghela napas. Rasanya ada yang bolong di dalam sini.
Fine. Kampret.

"Tau kok, kalau aku terus- terusan nanyain, kamu nya bakal muak. Mungkin juga sekarang udah muak."

Bagas cuma senyum.

"Nanti kamu capek," katanya.
"Memang. Udahlah, ga bahas lagi." Aku mengaduk minuman ku terlalu kencang.

Sial, jangan nangis, bodoh.
Aku bukan orang menyedihkan yang buru-buru nikah karena merasa usia sudah ngejar-ngejar. Tapi karena i've met someone i want to spend the rest of my life with.

Mungkin harusnya aku nggak punya perasaan kaya gini.


Thursday, February 12, 2015

Day 14: Gadis Filipina

MJ!
Benarkah? Benar yang ku dengar itu? Kenapa harus dia? Kenapa harus Jey?

Mary Jane, gadis Filipinaku, kenapa kau harus minum sebanyak itu, lalu mabuk. Lalu menyambar dia, untuk kau peluk, hendak kau cium.

Kurang lebih, begitulah yang kudengar dari teman sekelasku. Mereka berbisik- bisik membicarakanmu. Aku tak suka. Aku tak suka mereka bergosip soal kau, MJ. Aku lebih tak suka lagi, kalau ternyata yang mereka bicarakan itu benar.
Itu tak benar kan? Kau hanya terlalu mabuk, menegak soju terlalu banyak. Hingga kau berlaku di luar kontrolmu, benar kan?
Kau tak benar- benar tertarik pada Jey kan? Aku rasa, kau hanya sedang rindu rumah. Jadi Jey yang kau pilih, di alam bawah sadarmu. Jey, teman joggingku. Jey, karena ia dari Filipina. Tempat yang sama denganmu, yang mengingatkanmu pada rumah. Ya, kan? Benar kan?

Aku tak bisa memejam, Mary Jane. Yang mereka katakan, terbayang di kelopak mataku.

Dari aku yang tak bisa tidur.

Wednesday, February 11, 2015

Day 13: Dari Gedung Asrama Laki- Laki

Dear, Mary Jane

Kau belum tidur? Kau sedang apa tadi di luar sana?
Aku melihatmu secara tak sengaja. Atau alam semesta sengaja membuatku berdiri di depan jendela kamar, sehingga aku melihatmu, dibawah sana.

Kau tau, lampu jalannya tidak terlalu terang, jadi tak jelas kelihatan siapapun yang berjalan 3 lantai di bawah sana itu. Tapi hatiku, atau mataku, atau otakku, entahlah yang mana, semua mendadak sok tau. Sosok mungil berjaket biru dibawah sana itu kau, Mary Jane.

Aku membeku, sampai beberapa detik kemudian otakku baru berpikir benar. Hei, aku 3 lantai jauhnya darimu, kau tak melihatku. Buat apa tegang membeku. Silly me, MJ.

Apa yang kau bawa itu? Plastik putih di tangan. Kulihat kau datang dari arah minimarket 24 jam di belakang asrama. Asumsiku, lagi- lagi sok tau, mungkin kau lapar menjelang tengah malam?

Ah, aku jadi ingat, apa kau sudah beradaptasi dengan makanan di sini? Sudahkah? Belum kah?
Apa kau rindu masakan rumah?

Kalau aku, aku rindu hari Senin, jadi aku bisa melihatmu tiap jam istirahat tiba.

Salam,
Dari gedung asrama laki- laki


Tuesday, February 10, 2015

Day 12: Americano ditanganmu

Dear Mary Jane,

Hari ini kau pakai sweater merah jambu, kau lewat didepanku saat aku sedang menghabiskan waktu istirahat. Tanganmu memegang gelas kertas, dari aromanya kurasa itu kopi. Mungkin, americano?
Aku ingin tau, apa minuman kesukaanmu.

Semoga kopi di gelas kertasmu, bisa menghangatkanmu dari cuaca sisa musim dingin diluar sana. Entah mengapa, tapi aku ingin menjadi americano di tanganmu itu. Membantumu beradaptasi dari cuaca beku, yang mungkin tak pernah kau rasakan di tanah airmu sana.

Mary Jane,
Maafkan aku yang meracau, dengan kata- kata yang tak jelas. Aku hanya harus mengeluarkannya, karena rasanya dadaku akan meledak, tiap saat kau lewat.

Salam,
Dari kelas sebelah

Sunday, February 8, 2015

Day 10: Mary Jane, Hari Berhujan

Dear Mary Jane...
atau MJ, seperti yang biasa teman- temanmu panggil.

Kita baru bertemu seminggu yang lalu, di koridor. Aku sedang menghabiskan waktu istirahat yang hanya sebentar itu, meneguk air dari gelas kertas. Pelan- pelan ku biarkan air dingin melewati tenggorokanku. Jendela besar memperlihatkan hujan di luar sana.

Di penghujung musim dingin, di awal musim semi, di hari berhujan. Aku merapatkan sweater ku. Koridor tanpa penghangat.

Mary Jane, kau melewati ku. Hanya menoleh sekilas saja padaku. Akupun begitu. Kurasa, itu kali pertama kita bertemu.
Tinggimu hanya sedadaku, rambut hitam sebahu. Jaket baseball abu- abu, celana kulit hitam.

Kau menghilang masuk ke salah satu pintu di depanku. Aku membuang gelas kertas, mengikuti jejakmu, masuk ke pintu disebelahnya.

Hari berhujan ini, saat aku bertemu Mary Jane, aku tandai dalam memoriku.

Salam dari kelas sebelah