Showing posts with label jeju island. Show all posts
Showing posts with label jeju island. Show all posts

Thursday, June 10, 2021

Gem (?)

 OMFG it's 2021...Terakhir ngepost itu 2018. Waktu sungguh berlalu bagai kilat. Tahun berganti, kepribadian berganti (believe me, i'm not that introvert anymore LOL). Aaaaand look what i've found on my flash disk..not bad, not bad...i'll post this unfinished story. Enjoy lol lol



Satu


“Paman, Jeju National University. Ok?”. Aria Putri sudah mengulang kalimat itu setidaknya tiga kali. Namun, laki- laki setengah baya di depannya tetap menggeleng sambil memandang bingung. Ia menggumamkan beberapa patah kata asing. Mungkin mengekspresikan kebingungannya. Udara dingin menggigit- gigit jemari Aria yang sudah memerah. Dagu dan hidungnya mulai mati rasa. Ia belum bisa membayangkan bagaimana dirinya yang seumur hidup tinggal di negara tropis akan beradaptasi dengan suhu dingin di pulau ini.

“Jeju?”.

“Ne*. Jeju National University.” 

Oh tidak, apakah Aria juga harus menerjemahkan kata national dan university ke dalam bahasa Korea? Ia ingin menangis sekarang. Aria menunduk. Pandangannya mulai kabur, air mata perlahan menggenang. Perutnya berbunyi pelan. Ia lapar, tadi ia sarapan di pesawat pada pukul lima pagi. Mengunyah omeletnya dengan mata setengah terbuka. Tapi ia tak bisa menghabiskan sarapannya karena perutnya masih tidur pada jam- jam itu. Sekarang Aria sedikit menyesal tak menghabiskannya. Belum lagi lehernya sakit karena tidur dengan tak nyaman selama tujuh jam di pesawat.

 Aria memaksa dirinya untuk berpikir. Namun udara dingin yang masih belum familiar ini kelihatannya membekukan otak Aria. Hingga akhirnya ia melirik ke tangannya yang mengepal lemah. Secarik kertas putih yang sudah kusut ada di sana. Oh! Perlahan ia membuka kertas dengan berbagai nomor yang ditulis dengan pensil. Aria mendapatkannya dari laki- laki di konter informasi. Aria menelusuri baris- baris angka tersebut. 

“Jeju-dae*?” tanya Aria penuh harap setengah bertanya.

Paman supir taksinya mengucapkan “ah” sambil menepuk kedua tangannya dengan ekspresi bilang- dari-tadi- dong. Paman supir taksinya mengangkat koper Aria ke bagasi. Aria memandangnya dengan sedikit rasa bersalah. Kopernya besar dan berat, penuh berbagai barang mulai pakaian sampai mie instan cup. Saat paman supir taksi menuju ke balik kemudi, baru Aria masuk ke dalam taksi. Ia menghempaskan dirinya di kursi taksi yang empuk. Ia menarik napas panjang, melemaskan otot- ototnya yang lelah. Bahunya yang tegang akhirnya bisa rileks sejenak.

Aria memperhatikan sekelilingnya. Langit diluar cerah sekali. Pertama kalinya ia bisa mengapresiasi suasana kota itu setelah mendarat tiga jam lalu. Taksinya melaju dengan santai, jalanan benar- benar lenggang. Deretan pertokoan di kiri dan kanannya sebentar- sebentar menghilang, berganti dengan lahan yang luas. Tidak ada gedung pencakar langit super tinggi, sejauh yang bisa dilihatnya sampai saat ini.

Matahari bersinar terang, tapi suhu diluar benar- benar  dingin. Selama ini Aria selalu penasaran saat melihat di televisi, orang- orang berpakaian tebal padahal cuacanya sangat cerah. Bagaimana bisa begitu? Apa tidak kepanasan? Hari ini ia mendapat jawabannya. Untuk pertama kali ia merasakan sendiri yang namanya musim dingin, atau ini musim semi? Tak tahulah.

Aria memijit pelipisnya pelan. Ia teringat apa yang dialaminya tiga jam yang lalu. Pukul setengah tujuh pagi ini, Ia sudah berlari- lari melintasi setengah bandara Incheon yang luasnya minta ampun karena takut ditinggal pesawat. Bukan hal yang mudah karena ia sambil berusaha mengontrol troli berisi koper seberat 35 kilo. Semua terjadi berkat arahan sesat dari salah satu petugas bandara yang menunjukkan padanya konter airlines yang salah.

Mendarat di Jeju juga bukan akhir dari masalahnya. Pihak universitas yang tadinya hendak menjemput, ditunggui setengah jam tak juga muncul. Hingga ia memutuskan bertanya sedapatnya pada lelaki muda yang berdiri di belakang meja bertuliskan informasi. Laki- laki itu membekali Aria dengan secarik kertas bertuliskan nomor-nomor bus yang bisa ia tumpangi. Namun naik bus bukan pilihan buatnya. Tak terbayang bila ia, dengan tinggi yang tak seberapa, harus berdiri dengan koper besarnya.

Kertas yang akhirnya menolongku, pikir Aria.

Ia mendengus mengingat betapa susahnya ia berbicara dengan sopir taksi tadi. Bagaimana mungkin paman itu tak mengerti kata- kata sesederhana national dan university?

Dengan semua kejadian pagi ini, Aria jadi mempertanyakan keputusannya datang kemari. Ah, semoga saja bukan keputusan jelek yang sudah dia buat.

Yang benar saja!

Aria akan memanfaatkan waktunya di pulau ini dengan amat sangat baik. Saat- saat yang berharga. Ia akan memastikan diri jauh- jauh dari masalah apapun.


***

Jalanan kosong sama sekali. Tak satupun  mahasiswa kelihatan. “Sial! Jangan bilang kalau aku sudah terlambat.” Aria memperbesar langkah kakinya. Sambil setengah berlari, ia melirik jam tangannya. Yang benar saja, ia tak mungkin terlambat. Kelasnya dimulai jam dua, dan saat ini bahkan belum jam dua. Setidaknya, Aria masih punya dua menit lagi.

Aria menghabiskan dua menitnya untuk mengingat dimana letak kelasnya. Ia tiba bersamaan dengan dosennya. 

Baek seonsaengnim* berdiri di tengah ruangan. Rambutnya hitam sebahu, terdapat bekas ikatan rambut di pertengahannya. Ia menyentuh kacamatanya sedikit, lalu bersuara menyuruh seisi kelas membuka buka. Ia melakukannya dalam bahasa Korea.

Aria sempat kaget saat mengetahui bahwa dirinya, bersama lima belas mahasiswa asing lainnya, akan diajari bagaimana berbahasa Korea menggunakan bahasa Korea sebagai bahasa pengantar. Namun, sejauh ini semuanya lancar- lancar saja. Mengagumkan. Mereka diperbolehkan menggunakan ponsel sebagai translator.

Mereka mendapat istirahat selama lima belas menit pada pukul tiga. Aria berdiri di koridor, menggigil karena udara yang dingin. Ia berharap Aom, teman sekelas yang sedang ditunggunya, tak berlama- lama di kamar kecil.

Koridor itu lumayan panjang. Di sisi kiri koridor, terdapat beberapa pintu- pintu coklat muda, tempat ruang kelas lain berada. Di sisi kanan, jendela- jendela kaca super besar  menampakkan pemandangan lapangan olahraga di seberang jalan. Hari ini, cuacanya agak berkabut, jadi segala sesuatu di luar jendela tak terlihat jelas.

“Aria-ssi*, aku sudah selesai. Ayo.”

Aria berbalik, lalu berjalan mengikuti Aom menuju lift di ujung koridor. Aom menekan tombol B1. Mereka bergerak turun.

Aom, teman sekelas Aria di kelas bahasa Korea. Ia berasal dari Thailand, tidak terlalu lancar berbahasa Inggris. Namun ia teman yang menyenangkan. Aom juga tahu banyak hal tentang pulau ini, dan sangat pintar mencari arah meskipun ia, sama seperti Aria, baru pertama kali ke pulau ini.

Aom menarik kerah sweater turtleneck-nya. Berusaha menutup dagunya yang kedinginan. Pintu lift terbuka. Aom melangkah keluar. Aria mengekorinya. 

Aria memegang cangkir kertas berisi coklat panas. Tangannya yang dingin dijalari kehangatan. Ini satu- satunya mesin penjual minuman hangat di gedung ini. Aom yang menemukannya. Ah, Aria bersyukur sekali ia bertemu Aom di sini. Dengan Aom, persentasenya tersesat di jalan langsung mengecil seketika.

Mereka berdua duduk diam di sofa bundar terdekat, menyesap minuman pelan- pelan. Sebuah langkah kaki menggema dari ujung ruangan. Lantai itu sangat sepi, jadi suara langkah kaki saja bisa terdengar ke seluruh ruangan.

Suara langkah kaki itu pelan- pelan mendekat. Dalam beberapa detik lagi Aria bisa melihat pemiliknya. Dan benar saja, seorang laki- laki jangkung lewat di depan mereka. Ia memandang lurus ke depan. Tanpa sadar, Aria berseru pelan,” wow…”

Aom menoleh padanya dengan pandangan bertanya. Aria terkekeh pelan pada Aom. Laki- laki itu menghilang di depan tangga.

“Benar- benar tampan,” Aria menjelaskan. 

Aom menggeleng- geleng. Ia menghabiskan kopinya lalu berdiri di depan mesin. Tak berapa lama, Aom sudah memegang cangkir kedua kopinya. 

“Menurutmu yang tadi itu tidak tampan? Tidak keren?” Aria menuntut penjelasan.

“Bukan. Ia memang tampan. Tapi kau, Aria, benar- benar tidak bisa lihat laki- laki tampan. Mereka pasti tidak akan luput dari matamu.” 

“Aom-ssi!” Aria protes. Aom hanya tertawa.

***


Aria berjalan pelan, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku mantel. Plastik besarnya berayun- ayun. Bila tak menahan diri, Aria nyaris membeli tiap jenis snack yang dilihatnya di minimart tadi. Ia ingin mencoba semuanya. 

Angin berhembus pelan membuat Aria menggigil. Ia menarik rapat bagian depan mantelnya. Harusnya tadi ia kancing saja. Tangannya gemetaran. Aria menoleh ke kiri dan kanan hendak menyeberang saat matanya menangkap sosok laki- laki di bawah lampu jalan. Sedetik kemudian Aria mengenalinya. Itu laki- laki yang dilihatnya tadi siang. Ia sedang berjalan sambil berbicara di telpon. Wajahnya menunduk.

Laki- laki itu tiba- tiba mengangkat wajahnya. Sekarang, ia bisa melihat wajahnya dengan lebih jelas. Ah, dia memang keren. Lagi- lagi Aria berseru pelan tanpa sadar,”wow…”

Aria tersenyum kecil saat laki- laki itu bertatapan dengannya. Lalu Aria berlari menyeberang jalan. Ia bergegas masuk begitu pintu asrama terbuka.

“Ah, hangatnya,” Aria mendesah pelan saat memasuki kamar.  Aom menoleh, matanya membesar melihat Aria.

“Kau membeli sebanyak itu? Kau habis… merampok minimart?”

Aria mengangkat bahu. “Aku tak berdaya. Mereka semua minta aku cicipi.”

Aom mendengus pelan.

Aria melambai tangan pelan. “Tenang saja, Aom-ssi. Aku takkan menghabiskan semuanya sekaligus.” Aria meletakkan belanjaannya diatas meja, lalu dengan gembira menyusun berbungkus- bungkus snack itu di rak.

“Oya, aku bertemu dengannya lagi.”

“…”

“Laki- laki itu, yang tinggi dan keren.”

“Yang mana? Hari ini, setidaknya… ada tiga laki- laki yang kau sebut keren.” Aom kembali menekuni jari- jari tangannya setelah berkata begitu.

“Yang di lobi tadi. Ia lewat saat kita sedang beli kopi. Tadi aku berpapasan dengannya di belakang. Kau tahu? Dia memang benar- benar tampan. Tapi entah kenapa, seolah- olah dia penuh kesedihan.”

Aom menoleh lagi. Kali ini, ia memandang ARIA sambil mengangkat alis. ARIA mengangkat bahunya. “Aku merasa begitu.”

“Wah, ARIA. Kurasa kita bisa pergi ke dokter untuk mengecek matamu.” ARIA hanya tertawa mendengarnya. Ia duduk dan membuka satu bungkus snack pedas.

“Hati- hati, lama- lama… kau bisa jatuh cinta padanya.”

***

Alex Kang berjalan pelan menyusuri trotoar. Ia tak terlalu memperhatikan langkahnya. Kakinya dipercayakan untuk menuntun. Pikirannya terbang kemana- mana. Tepatnya melayang beribu mil jauhnya. Selalu berhenti kepada sebuah wajah. Bayangan rambut hitam sebahu, mata gelap yang bersinar bila memandangnya. Lalu, bahu yang bergetar, pipi yang tirus. Kemudian, mata itu menutup. Bibir itu menjadi dingin. Dan rasa sakit yang familiar itu muncul lagi.

Alex berhenti. Ia menutup mata, lalu menghembuskan napas pelan. Alex membuka matanya setelah merasa dirinya cukup stabil. Ia mulai melangkah lagi.

Ponselnya berdering. Alex menjawabnya segera setelah melihat penelponnya.

“Halo, Jo. Apa yang kau lakukan menelpon ku jam segini? Bukannya disana masih pagi?”

“Halo juga, saudaraku. Hyong, aku belum tidur sama sekali, asal kau tahu saja. Dan ibu tak memperbolehkanku pergi tidur sampai aku menelponmu.”

Alex tersenyum lemah. “Katakan pada ibu, aku baik- baik saja. Tak perlu khawatir. Dan jangan minta aku menelponnya setiap hari. Aku tidak sepayah itu… Tidak lagi.” 

“Ya, ya. Ibu cuma khawatir, Hyong. Kalau kau tak mau menelponnya setiap hari, katakan sendiri pada ibu, Hyong. Aku tak mau mendapat ceramah tambahan dari ibu gara- gara Hyong.”

“Baiklah, Jo. Sekarang pergilah tidur.” Alex tersenyum. Alex menendang sebuah batu sambil mendengar adiknya masih mengoceh di ujung sana.

Alex berhenti berjalan. Kakinya membeku di tempat. Jantungnya berhenti berdetak sesaat. Matanya tak berkedip memandang ke seberang jalan. Gadis itu disana, menyeberang jalan. Lalu menghilang memasuki gedung.

Apa ia tak salah liat? Itu senyum yang sama. Rambut yang sama, hanya lebih panjang. Mata gelap yang sama. Tapi, tak mungkin…

“Hyong? Hyong, kau masih disana? Kau tak apa-apa kan?”

Oh. “Ya, aku… aku tak apa- apa…” jawab Alex pelan. Ia menyuruh Jo tidur lalu menutup telponnya. Alex berdiri di tempatnya entah berapa lama. Ia memandang gedung putih di seberangnya dengan tatapan kosong.

Matanya salah lihat? Tak mungkin, lampu- lampu jalan sangat terang sehingga yang tadi itu bukan ilusi. Akal sehatnya menolak untuk menerima, namun hatinya memaksa.

Angin berhembus lagi membuat udara semakin dingin. Alex mulai berjalan dengan enggan. Baiklah.. baiklah. Sebaiknya aku pulang dulu, lalu mencerna semuanya kemudian.


Wednesday, June 4, 2014

Rain Rain Go Away~

Setelah sekian lama, pagi ini diguyur hujan juga.
Hujan- hujan gini, mengingatkan hari- hari lalu.

Saat berada di tempat yang asal hujan, susah banget make payungnya.
Anda harus master dulu dalam urusan pake payung saat hujan, kalau lagi di pulau Jeju hehehe
Bukannya terlindung dari hujan, bisa- bisa malah kelimpungan kalo payungnya kebalik.

Harus menguasai arah datangnya angin. Mesti sigap ngarahin payung ke kiri,kanan, depan, belakang.
Kalo ga master,bakal basah keujanan,payung kebalik dengan konyol --"
Hahaha indahnya hidup.

Tuesday, December 25, 2012

Roommate...

Selama tinggal di Jeju aku uda 3 kali ganti rummet. Tiap semester kan pindah kamar, dan otomatis rummetnya juga ganti karena kamarnya itu milihnya acak.
Yang pernah sekamar sama aku orang Indonesia, Perancis dan terakhir China.

Awalnya aku ga ngeh juga soal ini, sampe rummet pertama alias orang Indonesia alias Keri bilang disuatu hari di akhir musim panas *ceile,
Aku: Ker, si Perancis ni ngunyah terus sampe tengah malem lah. Kakak mo bobok dia masi ngemil
Keri: Kan bener.
Aku: Apanya?
Keri: Semua yang sekamar sama kakak jadi banyak makan...
Aku: Ah masak?
Keri: Iya kak, Keri dulu juga gitu. Kayanya nafsu makan kakak pindah deh.
Aku: Iya gitu ya??
(masi ga yakin)


Daaaan malam ini, mitos, legenda, fenomena ato apapun itu namanya lah, terbukti lagi!!
*lebay dikit

Si rummet baru orang China ini, awal- awal sekamar sama dia, aku g pernah liat dia makan. Paling makan pisang doang.
Lagi diet kali ya..gitu mikirnya.
Bener aja, dimejanya ada teh diet vitamin diet apalah gitu yank diminum tiap hari.
*sekedar info: cewe sini gilak diet, padahal kurus tapi masi diet -__-

Dia diet, aku dengan sadisnya makan dikamar dengan aroma makanan yang enak ahahahaha
eh, besoknya, dia pagi- pagi aku liat uda makan nasi.
Besoknya juga gitu. Rutin jadinya. Obat diet minum terus.
Terus jadwal aku makan di kamar berkurang...eeh gantian rummetnya yang beli snack segede- gede gaban bungkusnya.
Awalnya satu.
Kemaren uda 3.
Malem ini 5 bungkus jadinya.

Aku: Ker, rummet kakak gagal diet. Beneran kayanya ya, yang jadi rummet kakak jadi banyak makan.
Keri: ??
Aku: Chiki nya 5 bungkus Ker. Mitos Keri bener deh kayanya.
Keri: *Ngakak
Aku: Kok bisa ya?Kakak bawa jin apa ya bisa jd gitu?
Keri: Mungkin nafsu makan kakak pindah ke rummet...
Aku: Iya kali ya..
Keri: Ato..liat muka kakak bikin laper *ngakak
Aku: -___-

Begitu lah adanya.
Sekian.



To Keri: thanks to you,kakak yg buta arah ini g nyasar kemana- mana hehehe

Last Korean Class Trip Jeju

Lusa, i will leave Jeju hiks hiks hiks *lap ingus *lagi flu, maklum :p

And minggu lalu perginya ke Yeomiji Botanical Garden sama kebun jeruk. Ujan turun segala tapi gak masalah itu sih, botanical gardennya indoor gitu..dan inilah poto- potonya...
























Di kebun jerukny harus pake raincoat, karena ujan belum berhenti and lokasiny outdoor. Disini kita metik sendiri jeruknya dan bisa metik sebanyak apapun nyahahaha

Sehari sebelumnya dosen aja uda ngasi tau kalo bawa ransel ato tas yang gede ahahaha biar bisa muat jeruknya banyak- banyak. Kan gratis :p














Makasi Jeju National University buat 2 semester yang berharga :)

Sunday, December 23, 2012

Terima Kasih

" Saat dia punya beban berat dan aku bisa meringankannya, bisa mengembalikannya menjadi "dia" lagi, ada perasaan yang tak bisa tergambarkan. Bahwa aku bisa melalukan sesuatu untuknya."

pagi bersalju di Jeju

Friday, December 21, 2012

Seongsan Ilchulbong Winter Ver.

Bisa dibilang aku kurang kerjaan namanya, pigi lagi ke Seongsan Ilchulbong alias Sunrise Peak untuk kedua kalinya. Pas summer dulu juga kan uda pernah pigi hehehehe...
Ga papa lah yaa...

Cuacanya dingin --"



Thursday, December 20, 2012

Aqua Planet

Dormitory trip to Aqua Planet, waktu itu masih awal musim gugur, cuaca belum dingin kaya sekarang. Masih sejuk seger- seger :p

Sodara Mr. Krab

ubur-ubur

ubur- ubur lagi




contact lens baru :p


show pertama
show kedua

Banyak show lah pokoknya, haenyo alias penyelam perempuan, putri duyung gadungan :p , singa laut, lumba- lumba, renang indah ato apalah itu namanya --".


ntah sedang apa --"

Saturday, December 8, 2012

Hutang

Poto banyak banget udah bertumpuk dan belum dipost disini, aaah makin mau pulang makin keteteran saja saya ini ya kerjaannya nyahahaha...

No pressure, giat sih giat, rajin sih wajib, tapi gak sampe nyiksa diri sendiri juga.
Ga lama lagi disininya juga, waktu yang dikit lagi disini itu, ya ketimbang menekan diri sendiri mending digunain buat bengong- bengong liat salju turun :D
*sedang santai mode: on

Ah ya, tadi nonton juga Werewolf Boy yang ada Joongki yang imut setengah mati itu >.<
Film ini lagi happening banget di Korea sini. Kata orang- orang sedih, bahkan temen cowo di kelas ada yang udah nonton duluan dan banjir air mata hehehehe.

Maka, diriku yang tak tahan film sedih ini :p bersiap- siap lah berair mata.
Sedih sih, apalagi aku anti sad ending :/

Ternyata klimaks nya doang yang bikin ngenes, nyaris sih nyaris banjir, kalau saja endingnya lebih jelas.
Aku benci sad ending tapi lebih benci ending gantung arrrrrgh *batal sedih! *lap ingus :p

tolong, dia buat saya aja


Btw, malam minggu nih. Iya, saya udah malam minggu disini, dia disana masih sabtu sore T.T beda waktu cuma 2 jam secara angka, tapi secara nyata itu berasa banget.

Malam Minggu ini oii, pacar mana pacar???
*nyari di kolong meja :p


iya iya, gambarnya Nodame semua --"
Ah ya, sekarang udah lega, soal tulisan yang hilang, semuanya udah saya bilang, semuanya :)

Sunday, December 2, 2012

Mulai Berhitung, Mari...

Ga berasa bentar lagi balik ke hidup yang nyata.
Disini gak nyata? Jujur ini kaya mimpi,tiap harinya juga lewat kaya mimpi.
Waktu gak berasa disini.

Teman dari Jepang yang sama- sama datang Maret lalu bilang dia 12 hari lagi bakal pulang.
Yang berarti abis ujian kampus dia langsung cabut.

Tapi dia enak,Jepang mah deket, sejam juga nyampe naek pesawat, tiketnya juga ga mahal.
Kalo pengen ke sini lagi, ya ga repot lah.

Aku perlu visa lagi nyahahahahahikshiks...

Menikmati hari- hari di Jeju sebagai mahasiswa yang santai dan banyak waktu luang.
Kesempatan yang dulu sempat ragu segede gaban buat ngambilnya. Dan jelas kalau gak diambil dulu ak pasti lagi menyesal mati- matian sekarang kan?

:D

Bukan cuma mimpi yang beneran mimpi tinggal di Korea nya itu aja, tapi segala hal yang berubah, terjadi, dipelajari, yang didapat sebagai efek samping dari kesempatan ini.

Punya waktu buat diri sendiri, benar- benar sendiri, yang melimpah ruah.
Berada ditengah- tengah orang yang gak kenal kamu sama sekali itu menyenangkan rasanya.
 :D

Angin di Jeju yang terkenal banget itu, ujannya yang jarang lebat *kecuali lagi badai, tapi yang paling bakal dikangenin sih INTERNETNYA YANG SUPER KENCANG!
*dicolong bisa gak sih? T.T

Bersyukur buat kesempatannya, buat keputusan yang diambil waktu itu, buat menjadi orang yang tepat disaat yang tepat dengan kesempatan yang tepat *repot :p
Ga ada yang mustahil di dunia ini, untuk hal paling mustahil sekalipun kan?

Tuesday, November 20, 2012

Baru Tau

Aku ingin melihatnya dari dekat,
bukan cuma melihat fotonya.
Aku ingin mendengar suaranya,
bukan mengingat bagaimana suara yang pernah aku dengar.

Aku ingin melihat bahunya,
yang entah mengapa sangat ingin aku lihat.

Aku gak tau dulu apa sama seperti ini menyiksanya,
aku seperti baru tau sekarang.
Rindu ini...


Saturday, November 17, 2012

Kronologis

Begini ceritanya hehehehe tunggu, nyengir nyengir dulu.
Oke.. udah selesai nyengirnya hehehe

Awalnya ya kesel karena pending- ngomong ngalor ngidul kaya biasa- bahas bad mood- bahas nangis- bahas mantan pacar saya --" yang berujung insecure- bahas coklat dan lays kadaluarsa- bahas ngantuk di kelas- tiba2 udah ke situ aja nyahahaha...ga nyambung kan?

Itu juga ga langsung, biasalah...pake tanya jawab dan segala macamnya lagi.
When i said yes, next problem : kapan?

Milih ini juga menggalau saya jam setengah 4 pagi nyahahaha

Aneh+ aneh = saket ulee huaahahahaha

Result: jam 4 lewat KST or jam 2 lewat WIB... official
Nyahahahaha

17 November 2012


Friday, November 16, 2012

Kimchi and Hanbok

Diajakin temen kelas buat pergi ke tempat belajar bikin kimchi sama bisa poto-poto pake hanbok juga.
Murah sih bayarnya, jadi ya mau aja, kan lumayan ketimbang bengong di kamar. Jadilah akhirnya pergi beramai- ramai.
Pas bikin kimchinya sih simple banget, cuma ngoles- ngoles pasta cabe alias gochujang ke sawi putih (?) ato apalah itu namanya *kayaknya beneran sawi ya... *mikir
Yah mesti bikin kimchinya cuma gitu doang, ga masalah lah, udah pernah juga ngerasain sih bikin kimchi pake cara ribet yang penuh bawang dan bubuk cabe --"

Hasilnya adalah poto-poto ini nyahahaha












And hanbok time...






















Sebelum pulang, poto lagi...



Sekian.

Sunday, November 11, 2012

Butterfly

Haloooo >.<
Hari Minggu sehabis ujan dari pagi ini.
How am i? Great!

Bagi disini dikit boleh kali ya :p
Nyahahahaha

Kenapa butterfly?
Why kupu- kupu? :p





" why do birds suddenly appear, everytime you are near
  just like me, they long to be
  close to you...
  why do stars fall down from the sky,
 everytime you walk by,
 just like me, they long to be, close to you..."

*nyengir*

"everytime i come close to you,
feel like i get butterfly...
 everytime i come close to you,
 feel like i gonna dream everytime..."

*cengengesan*
HUAHAHAHAHAHA
 
*ga jelas mode: on :p




*from the carpenters-close to you and gdragon-butterfly
 

Thursday, November 1, 2012

Autumn In Halla Mount.

 Yup yup,,i went to Halla Mt.
Sampe puncak,,menderitaaa.
Kaki itu ya, kalo bisa ganti, rasanya pingin ganti yang baru.
Orang pergi hiking itu pake persiapan, minimal ada joging- joging dikit lah.

Ini boro- boro persiapan, malamnya aja tidur cuma 4 jam.

9 jam buat naek en turun gunung ini..gaya dikit lah paling gak, gini- gini udah pernah nyampe puncak
paling tinggi di Korsel nyahahaha.

Mau lagi hiking? Big no no --"
Kalo bisa sebulanan ini ga liat- liat gunung dulu deh.
Pegelnya kaki itu masih belum bisa dilupain.


tampang masih bahagia,kaki masih normal

maple oh maple

beautiful red






puncaknya dikit lagi.fighting!

dari puncak Halla Mt.





kaki kami teraniaya


beginilah puncaknya, kolamnya kering

ayo kita turun
Jalan turunnya, seram banget..jalan naiknya ternyata lebih lumayan kemana- mana --"

warna warni musim gugur





 





candid camera : orang2 teraniaya

Setengah idup. Pas jalan turun itu kaki gak sanggup lagi rasanya, motivasinya cuma satu : KASUR!

Lumayan lah, setengah mati juga tetep gak nyangka manusia satu ini, yang malas olahraga, maen hiking aja.
Dan, dapet liat maple yang cantik banget.

Oya, ini aslinya program jalan- jalan barengnya mahasiswa china, tapi beberapa non- china, termasuk saya, ngikut aja dengan tak tau dirinya nyahahaha. Ga ding, udah minta ijin kok.
Tapi mereka baik banget, ga berasa lah dibeda- bedain gitu. Padahal kalo dipikir kan, kami ini maen ikut- ikut aja acaranya mereka, tapi mereka ga masalah. Pada baik- baik banget. Makasih ya *peluk satu-satu