Showing posts with label Cerita menye menye. Show all posts
Showing posts with label Cerita menye menye. Show all posts

Friday, November 27, 2015

The Song

Lagu ini bungcud sekali hahaha merangkum satu cerita dengan simpel aja sih, tapi ngena, at least di saya. Sampe bela-belain ngetik di komputer kantor karena hengpon canggih aku sudah tak punya huwo huwooh...
Ini lagu mangtaps nya di dengerin sambil liat MV nya sih, ekspresi penyanyi itu mewakili sekali.



"It was only a smile but my heart it went wild
And I wasn't expecting that
Just a delicate kiss, anyone could've missed
I wasn't expecting that
Did I misread the sign? Your hand slipped into mine
I wasn't expecting that
You spent the night in my bed, you woke up and you said
"Well, I wasn't expecting that"

I thought love wasn't meant to last,
I thought you were just passing through
If I ever get the nerve to ask
What did I get right to deserve somebody like you?

I wasn't expecting that
It was only a word, it was almost mis-heard
'Cause I wasn't expecting that
But it came without fear, a month turned into a year
And I wasn't expecting that

I thought love wasn't meant to last,
I thought you were just passing through
If I ever get the nerve to ask
What did I get right to deserve somebody like you?
I wasn't expecting that

Isn't it strange how a life can be changed
In the flicker of the sweetest smile
We were married in spring
You know I wouldn't change a thing
Without an innocent kiss, what a life I'd have missed,

If you'd not took a chance on a little romance
When I wasn't expecting that
Time doesn't take long, three kids up and gone
And I wasn't expecting that
And when the nurses they came, said its come back again
I wasn't expecting that
Then you closed your eyes, took my heart by surprise
And I wasn't expecting that!"
-Jamie Lawson- Wasn't expecting that-


Tuesday, July 14, 2015

Time

"Yo, lama nggak liat kamu. Kamu kayanya jadi jarang ikutan kalau diajak jalan deh sekarang."

Aku mengatur napasku pelan, tetap dengan senyum bersahabat. Aku mencoba mengontrol diriku, agar protesku tak kentara kedengaran dan rindu itu tak melesak kepermukaan.

Rio bergerak sedikit di kursinya, matanya terus menatap ke arah dalam cafe. Aku tau dengan pasti apa yang diawasi mata itu. Dan aku tak suka. Ada sakit yang tiba- tiba berdenyut lagi.

"Maklumlah, aku masih pegawai baru. Mesti rajin- rajin ada di kantor," jelas Rio. Kini matanya menatapku. Masih mata yang sama, hanya kini berada dibalik frame kacamata berwarna hitam. Mata yang sama, sayu, dengan lingkar hitam yang sekarang lebih samar- samar terlihatnya.

Dia mengurusmu dengan baik. Kenyataan yang sangat aku benci untuk aku akui.

Tidak! Tidak! Aku tak akan mengakuinya. Kau mengurus dirimu dengan lebih baik, Rio. Bukan karena dia.

"Yakin?," tanyaku tajam.

"Maksudnya?"

Sekilas, tak terlihat jelas memang karena segera menghilang, tapi aku melihatnya, rasa tak senang di wajah Rio karena ucapanku. Aku tau, aku sudah menantang emosinya. Dan hal terakhir yang aku inginkan adalah membuat marah laki- laki ini, yang aku rindu setengah mati.

Rio masih diam. Matanya melirik lagi ke dalam cafe.

Mesti ya kamu sebegitunya menunggu dia? Dia cuma ke musala doang, Yo!

Kusambar gelas minumanku.

"Kita kan rindu sama kamu, Yo. Kamu nggak pernah nongol kalau diajak ngumpul. Padahal kamu dulu teman yang asik, seru. Diajak ngumpul kamu pasti datang," protesku.

Aku tak akan menahan diri lagi. Biar Rio tau, biar dia lihat. Aku rindu padanya, kehadirannya. Aku ada di sini, dari dulu sampai sekarang. Belum pergi ke mana- mana. Aku masih menunggu. Dia tau kan, ada sesuatu diantara kami berdua?

Setidaknya dulu.

Aku memainkan sedotan di gelasku. Mengaduk- aduk jus di dalamnya sampai berputar tak karuan seperti isi kepalaku, juga perasaanku.

Rio melirik lagi ke arah dalam cafe. Ia menghela napas pelan. Ku rasa dia sedang mengatur emosinya. Jelas terlihat kata- kataku tadi mengusiknya. Aku menunggu. Toh, selama ini aku juga menunggu, dan aku sanggup. Jadi, menunggu penjelasannya saat ini tak akan terasa terlalu lama. Aku orang yang sabar.

Tapi Rio diam saja di tempat duduknya. Ia bahkan kini tak melihatku.

"Yo...," panggilku.

Ia menoleh, tapi matanya kini menatapku dengan masam. Ia marah!

"Dulu, ya?" Rio bersuara dengan senyum dipaksakan.

"Iya, dulu. Sebelum kamu sama pacarmu yang sekarang!"

There. Sudah kukatakan.

Entah kenapa, tapi aku tiba- tiba jadi gugup luar biasa. 

Rio menegakkan duduknya. Ia tak lagi menyimpan rasa marahnya. Matanya menatapku tajam. Kurasa menyebut- nyebut sesuatu soal pacarnya cukup bisa memicu emosi Rio. Aku cukup tegar untuk mendengar apapun yang akan dikatakannya. Apapun dari bibir itu. Aku siap terluka. Aku memang sudah patah hati, apalagi yang tersisa?

Benarkah? Bukankah aku masih berharap?

Rio membuka mulutnya. "Oya? Well, aku bahagia dengan dia. Sangat bahagia. Sayang sekali kamu nggak lihat itu, Ra. Aku ngga masalah ngga dianggap seru atau asik lagi. Dia pilihan terbaik yang pernah aku buat. Lagipula, manusia meluangkan waktunya untuk orang- orang yang mereka cintai kan?."

Mata Rio menangkap sesuatu di kejauhan dan kemarahannya padam jadi asap.

Rasanya sesuatu menohok tenggorokanku. Bersusah payah aku menelannya.

"Jadi, aku tak berhak kebagian sedikit dari waktu kamu?"

Rio bangkit dari kursinya. Ia tersenyum ke arah matanya memandang. Mata yang tadi terbakar emosi, kini menatap penuh sayang. Ia berpaling ke arahku. Senyum masih menghias bibirnya.

"Ra, kamu berhak meminta waktuku. Tapi aku juga berhak memutuskan, akan memberikannya pada siapa."

Aku merasa ia berbicara bukan hanya tentang waktu. Tapi tentang semuanya. Tentang hatinya yang juga aku pinta. Aku bisa mencintainya, tapi dia yang memutuskan akan memberi cintanya pada siapa.Itu jawabannya untukku.

Kulihat Rio mengulurkan tangannya. Lalu menggenggam erat tangan yang menyambutnya. Mereka akan berlalu.

"Duluan ya," pamitnya. Perempuan digenggamannya melambaikan tangan. Teman- teman riuh menggoda mereka.

Aku menunduk di atas gelasku. Ternyata hatiku masih tersisa kepingannya, dan kini patah lagi. Sebulir air mata menetes ke dalam gelas. Ku rasa jus melonku akan sedikit keasinan.