I dont sit around and envying other people world, i just keep questioning myself these days.
Wednesday, February 25, 2015
Tuesday, February 24, 2015
The End
Berawal dari mangkir sehari dua hari, berujung mandek sama sekali. Akhirnya, jadi mikir- mikir menelaah, menimbang dan mengingat -ala pak beye-, hingga memutuskan untuk mundur dan udahan aja dari 30 hari menulis itu tu.
Sekian dan terima kasih.
Btw, so crowded inside here.
머리, 마음, 복잡해. 살려줘.
Sekian dan terima kasih.
Btw, so crowded inside here.
머리, 마음, 복잡해. 살려줘.
Sunday, February 22, 2015
day 24: I am fine
Jadi, Tuhan punya cara buat ngasi tau, ini loh solusi pikiran ruwetmu, pertanyaan ga pentingmu.
Beberapa hari belakangan, pegangan agak goyah. Hatinya goyang- goyang, yang berefek isi kepala dan pikiran kocar kacir ga karuan.
Mana bisa mikir jernih kalo udah berenang di tempat butek. Lumpurnya naek semua lantaran goyang. Nyari titik terangnya aja sulit, ketutupan terus. Doh, terus dikasi liat, dengarlah penerangan itu.
Ini dialog dari Castle gatau episode berapa kemaren, katanya
" jangan tukar sesuatu yang nyata, dengan hal yang ga nyata".
It hits me.
Lalu penguatan.
Jangan cuma liat jeleknya mulu, ikhlas aja soal yg kurangnya. Nanti lebihnya bakal banyak keliatan kalo udah ikhlas. Iya.
Beneran iya, bukan iyain aja biar cepet.
Now, im fine :)
Kemarin itu, bisa dibilang efek cerita impian sejuta gadis sama hormon saja.
Im fine.
다행이다
Beberapa hari belakangan, pegangan agak goyah. Hatinya goyang- goyang, yang berefek isi kepala dan pikiran kocar kacir ga karuan.
Mana bisa mikir jernih kalo udah berenang di tempat butek. Lumpurnya naek semua lantaran goyang. Nyari titik terangnya aja sulit, ketutupan terus. Doh, terus dikasi liat, dengarlah penerangan itu.
Ini dialog dari Castle gatau episode berapa kemaren, katanya
" jangan tukar sesuatu yang nyata, dengan hal yang ga nyata".
It hits me.
Lalu penguatan.
Jangan cuma liat jeleknya mulu, ikhlas aja soal yg kurangnya. Nanti lebihnya bakal banyak keliatan kalo udah ikhlas. Iya.
Beneran iya, bukan iyain aja biar cepet.
Now, im fine :)
Kemarin itu, bisa dibilang efek cerita impian sejuta gadis sama hormon saja.
Im fine.
다행이다
Saturday, February 21, 2015
Day 23: The Point
"You all deserve who isnt embarrassed to love you and tells all their friends about you and saves your selfies, good or bad,to look at when they miss you and to loses sleep to talk to you."
Nanti, kalau kita udah tua, kalau wajah rupawan itu udah ga ada, masih tetapkah sanggup bertahan sama- sama?
Masih ada feromon, endorfin dan serotonin yang bersenyawa jadi cinta?
Nanti, kalau aku tak sekurus ini lagi, keriput dengan usia yang tambah banyak, masih samakah perasaannya?
Kata orang, cinta itu bisa hilang. Memudar, bahkan dalam beberapa tahun aja. Yang bertahan bersama sampai ajal itu lalu apa?
Mereka punya kasih sayang, saling membutuhkan, empati juga komunikasi.
Bisakah kita kaya gitu?
Mungkin, akunya yang ga mahir ngungkapin perasaan dalam rangkaian kata. Karena poinku, seringnya tak sampai.
Jadi, bisakah bersama sampai ajal, saat kembang api cinta usai, karena komunikasi saja aku tak bisa.
Frustasi saat orang lain ga dapat poinnya.
What should i do?
*joget
Nanti, kalau kita udah tua, kalau wajah rupawan itu udah ga ada, masih tetapkah sanggup bertahan sama- sama?
Masih ada feromon, endorfin dan serotonin yang bersenyawa jadi cinta?
Nanti, kalau aku tak sekurus ini lagi, keriput dengan usia yang tambah banyak, masih samakah perasaannya?
Kata orang, cinta itu bisa hilang. Memudar, bahkan dalam beberapa tahun aja. Yang bertahan bersama sampai ajal itu lalu apa?
Mereka punya kasih sayang, saling membutuhkan, empati juga komunikasi.
Bisakah kita kaya gitu?
Mungkin, akunya yang ga mahir ngungkapin perasaan dalam rangkaian kata. Karena poinku, seringnya tak sampai.
Jadi, bisakah bersama sampai ajal, saat kembang api cinta usai, karena komunikasi saja aku tak bisa.
Frustasi saat orang lain ga dapat poinnya.
What should i do?
*joget
Thursday, February 19, 2015
Day21 : For My Own Sake
Ha, i skipped like 5 days?
If im not mistaken, hari ini udah hari ke 21 ya untuk even tulis menulis itu.
Jadi, melewatkan beberapa hari karena di kantor ga sempat curi waktu. Jam makan siang, pingin makan siang dengan tenang. Bener- bener istirahat. Sampe rumah sore, capek. Malam, entah kenapa ngantuk ga ketolongan. Well, excuses here and there.
Whatever. Mungkin komitmen hanya tinggal komitmen.
Wont push my self that hard. Mungkin nanti nyesal ga serius. Tapi, i need to stay sane. Mimpi dikejar, kenyataan berkata lain? Gimana?
Yang ada, seadanya aja. Ga ngehe kejar- kejaran lagi deh.
So, myself, i love you, love us. In good or bad mood, in happy lovey dovey or teary sad version of me.
Yeah, kalo ga sayang sama diri sendiri, then nobody will.
Yang ada, nikmati. Yang belum ada, ga usah ambil pusing aja. Yang mau dicapai, kejar, tapi jangan sampai ga menikmati yang ada. Ingat, ya?
So, lets eat, worry, shop, pray, hope, enjoy me- time, watch movie, sleep well, read, travel and stay healthy, Ireane.
Entertain your life.
And, btw, Matt Bomer or Paul Walker are my version of Mr. Grey *grin
But, Jamie Dornan is ok lah.
If im not mistaken, hari ini udah hari ke 21 ya untuk even tulis menulis itu.
Jadi, melewatkan beberapa hari karena di kantor ga sempat curi waktu. Jam makan siang, pingin makan siang dengan tenang. Bener- bener istirahat. Sampe rumah sore, capek. Malam, entah kenapa ngantuk ga ketolongan. Well, excuses here and there.
Whatever. Mungkin komitmen hanya tinggal komitmen.
Wont push my self that hard. Mungkin nanti nyesal ga serius. Tapi, i need to stay sane. Mimpi dikejar, kenyataan berkata lain? Gimana?
Yang ada, seadanya aja. Ga ngehe kejar- kejaran lagi deh.
So, myself, i love you, love us. In good or bad mood, in happy lovey dovey or teary sad version of me.
Yeah, kalo ga sayang sama diri sendiri, then nobody will.
Yang ada, nikmati. Yang belum ada, ga usah ambil pusing aja. Yang mau dicapai, kejar, tapi jangan sampai ga menikmati yang ada. Ingat, ya?
So, lets eat, worry, shop, pray, hope, enjoy me- time, watch movie, sleep well, read, travel and stay healthy, Ireane.
Entertain your life.
And, btw, Matt Bomer or Paul Walker are my version of Mr. Grey *grin
But, Jamie Dornan is ok lah.
Tuesday, February 17, 2015
Day 19: Kak Mah
Kak Mah, aku kenal Kak Mah dulunya cuma dari cerita- cerita mama. Kak Mah kerja di kantor mama sebagai cleaning service.
Sekarang, setelah aku kerja di kantor mama, baru aku tau Kak Mah itu yang mana.
Yang aku tau, Kak Mah punya seorang putri, yang taun ini akan masuk SMP. Suami Kak Mah bertahun- tahun yang lalu sakit, sehingga sekarang harus duduk di kursi roda, dan tak bisa bicara. Jadi, Kak Mah lah tulang punggung keluarga.
Tiap hari, saat Kak Mah bekerja, Kak Mah juga bawa suaminya. Selagi Kak Mah kerja, suaminya Kak Mah tempatkan di teras kantor, tepat menghadap televisi pada ruangan di depannya. Kata Kak Mah, supaya suaminya ada hiburan selagi menunggu.
Siangnya, kalau putri Kak Mah sudah pulang sekolah, ia akan datang ke tempat ibunya kerja. Meletakkan tas di ruang penyimpanan, tempat Kak Mah menyimpan sapu, ember dan pel, peralatan kerjanya. Lalu, ia akan duduk di kursi tunggu, di sebelah kursi roda ayahnya.
Siang ini, aku melihat Kak Mah sedang berjalan di koridor yang sepi. Jalannya Kak Mah agak payah. Mungkin kakinya sakit, atau lelah. Kalau aku perhatikan wajahnya yang penuh kesederhanaan, Kak Mah sudah tidak muda. Kaki itu mulai lelah dimakan usia dan perjuangan.
Aku tak bisa bayangkan, bagaimana bila badan Kak Mah sudah kelelahan berjuang? Ada anak dan suami yang akan kehilangan. Kak Mah masih dibutuhkan.
Doaku, semoga Kak Mah sehat selalu.
Sekarang, setelah aku kerja di kantor mama, baru aku tau Kak Mah itu yang mana.
Yang aku tau, Kak Mah punya seorang putri, yang taun ini akan masuk SMP. Suami Kak Mah bertahun- tahun yang lalu sakit, sehingga sekarang harus duduk di kursi roda, dan tak bisa bicara. Jadi, Kak Mah lah tulang punggung keluarga.
Tiap hari, saat Kak Mah bekerja, Kak Mah juga bawa suaminya. Selagi Kak Mah kerja, suaminya Kak Mah tempatkan di teras kantor, tepat menghadap televisi pada ruangan di depannya. Kata Kak Mah, supaya suaminya ada hiburan selagi menunggu.
Siangnya, kalau putri Kak Mah sudah pulang sekolah, ia akan datang ke tempat ibunya kerja. Meletakkan tas di ruang penyimpanan, tempat Kak Mah menyimpan sapu, ember dan pel, peralatan kerjanya. Lalu, ia akan duduk di kursi tunggu, di sebelah kursi roda ayahnya.
Siang ini, aku melihat Kak Mah sedang berjalan di koridor yang sepi. Jalannya Kak Mah agak payah. Mungkin kakinya sakit, atau lelah. Kalau aku perhatikan wajahnya yang penuh kesederhanaan, Kak Mah sudah tidak muda. Kaki itu mulai lelah dimakan usia dan perjuangan.
Aku tak bisa bayangkan, bagaimana bila badan Kak Mah sudah kelelahan berjuang? Ada anak dan suami yang akan kehilangan. Kak Mah masih dibutuhkan.
Doaku, semoga Kak Mah sehat selalu.
Saturday, February 14, 2015
14 Februari
Engga, biarpun judulnya 14 Februari, ga bakal cerita valentine disini. Karena bukan jamaah valentine-iyah (maksa). Tiap taun tetep beli kado,makan cake pas tanggal 14 feb, tapi dalam rangka ulang taun papa. Happy birthday Papa. Wuf yu. Wish dan doanya udah langsung disampaikan sama yang bisa ngabulinnya.
Ini ceritanya mau nyeritain soal hari ini aja sih. Tadi malah awal- awalnya mau ngedumel soal isi kepala yang bertanya- tanya. Cuma kepotong solat magrib, kepotong conello red velvet, yang belinya gara- gara ngidam red velvet cake dan ngarep es krimnya berasa serupa cakenya. Jauh dari ekspekstasi rupanya. Eneg. Jadilah feel bertanya- tanyanya jd berkurang.
Kepikiran aja, belakangan ya, kenapa sih banyak banget kata " terserah" itu keluar kalau ditanya mau kemana? Iya sih, ga salah satu pihak aja. Dua- duanya suka jawab gitu. Aku sih coba kurang- kurangin, nyoba kasih alternatif daripada kasih kata "terserah" sekali-kali.
That's okay lah. No big deal.
Tapi, kenapa ya, belakangan sering ga banyak ngomong? Akunya ngomooong terus, dianya diem aja. Apa males ngomong, apa males dengerin aku ngomong? Apa lagi ga mood ngomong? Cuma pengen diem- diem aja liat- liatan? Kalo iya, bilang. Kasih tau. So, i will shut my mouth.
Kadang, kaya lagi sibuk sama pikiran sendiri dianya. Akunya ngoceeh terus. Lagi ada masalah apa ya? Bagi. Ga bisa bagi? Ga apa, but at least tell me. "Hey, aku lagi ada masalah, kepikiran sesuatu, diem dulu ya. Ntar ngomong lagi" gitu.
Jadi, aku ga ngoceh sendiri.
Ga bikin drama, ga mau juga. Cuma, sayang aja kan. Ketemunya jarang sekarang. Tapi, mungkin cara menikmati pertemuannya yang beda kah? Aku pengennya bagi, dia maunya liat aja, diam tenang?
Kasih tau, jadi aku ga spekulasi sendiri.
Dipikir- pikir. Emang sekarang dia lebih diem daripada dulu, waktu masih jadi pejuang restu. Sekarang udah adem, apa terasa ga menantang lagi?
Auk deh.
Mungkin dianya berubah pasif. Mungkin dia bosen. Mungkin akunya yang kek kek sensitif. Mungkin aku banyak nuntut (?).
Fyuh.
Btw, oot, makin lama rombak kamarnya direalisasikan, makin berubah aja idenya. Dari awalnya wall deco, washi tape, sampe akhirnya sekayak polos aja biar ga rame. Soalnya mau pake light curtain.
Budget oh budget.
Ini ceritanya mau nyeritain soal hari ini aja sih. Tadi malah awal- awalnya mau ngedumel soal isi kepala yang bertanya- tanya. Cuma kepotong solat magrib, kepotong conello red velvet, yang belinya gara- gara ngidam red velvet cake dan ngarep es krimnya berasa serupa cakenya. Jauh dari ekspekstasi rupanya. Eneg. Jadilah feel bertanya- tanyanya jd berkurang.
Kepikiran aja, belakangan ya, kenapa sih banyak banget kata " terserah" itu keluar kalau ditanya mau kemana? Iya sih, ga salah satu pihak aja. Dua- duanya suka jawab gitu. Aku sih coba kurang- kurangin, nyoba kasih alternatif daripada kasih kata "terserah" sekali-kali.
That's okay lah. No big deal.
Tapi, kenapa ya, belakangan sering ga banyak ngomong? Akunya ngomooong terus, dianya diem aja. Apa males ngomong, apa males dengerin aku ngomong? Apa lagi ga mood ngomong? Cuma pengen diem- diem aja liat- liatan? Kalo iya, bilang. Kasih tau. So, i will shut my mouth.
Kadang, kaya lagi sibuk sama pikiran sendiri dianya. Akunya ngoceeh terus. Lagi ada masalah apa ya? Bagi. Ga bisa bagi? Ga apa, but at least tell me. "Hey, aku lagi ada masalah, kepikiran sesuatu, diem dulu ya. Ntar ngomong lagi" gitu.
Jadi, aku ga ngoceh sendiri.
Ga bikin drama, ga mau juga. Cuma, sayang aja kan. Ketemunya jarang sekarang. Tapi, mungkin cara menikmati pertemuannya yang beda kah? Aku pengennya bagi, dia maunya liat aja, diam tenang?
Kasih tau, jadi aku ga spekulasi sendiri.
Dipikir- pikir. Emang sekarang dia lebih diem daripada dulu, waktu masih jadi pejuang restu. Sekarang udah adem, apa terasa ga menantang lagi?
Auk deh.
Mungkin dianya berubah pasif. Mungkin dia bosen. Mungkin akunya yang kek kek sensitif. Mungkin aku banyak nuntut (?).
Fyuh.
Btw, oot, makin lama rombak kamarnya direalisasikan, makin berubah aja idenya. Dari awalnya wall deco, washi tape, sampe akhirnya sekayak polos aja biar ga rame. Soalnya mau pake light curtain.
Budget oh budget.
Subscribe to:
Posts (Atom)
